Film-Film yang Tidak Untuk Ditonton Kedua Kalinya
BEBERAPA film dibuat untuk ditonton. Beberapa film dibuat untuk ditonton tidak untuk kedua kalinya. Mungkin itu yang dipikirkan oleh si sutradara dalam proses pembuatan film-film di bawah ini. Film-film ini memberikan saya perasaan katarsis namun membuat saya untuk tidak menontonnya untuk kedua kalinya. “Menikmati” tampaknya bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya ketika menonton film-film ini. Secara artistik, film-film ini sangat fenomenal sekaligus terlampau emosional untuk ditonton.
10. LEAVING LAS VEGAS (1995)

Leaving Las Vegas
Sutradara: Mike Figgis
Pemain: Nicolas Cage, Elisabeth Shue
Durasi: 112 menit
Leaving Las Vegas adalah film yang sangat emosional. Film ini beralur lambat, namun di lain pihak juga menegangkan. Ketegangan berasal dari sebelum hubungan antara kedua tokoh utama dimulai, Ben (Nicolas Cage) dan Sera (Elisabeth Shue) sampai akhirnya masalah mereka berdua dipecahkan. Akting mereka sungguh brilian dan hal tersebutlah yang membuat film ini dapat “bekerja”. Saya menemukan diri saya mengempati Ben dan Sara secara tidak langsung. Film ini tidak memakai ramuan “perubahan kehidupan” yang biasanya digunakan pada setiap screenplay di film-film romantis pada umumnya, melainkan menitikberatkan pada ruang kecil pergerakan manusia yang mengisolasi mereka di dalamnya.
9. PHILADELPHIA (1993)

Philadelphia
Sutradara: Jonathan Demme
Pemain: Tom Hanks, Denzel Washington
Durasi: 125 menit
Mengubah opini publik kepada suatu masalah global adalah simbol dari film Philadelphia. Simbolisme itu sendiri adalah hal yang krusial pada bagian cerita ini. Cara berinteraksi antara Beckett (Tom Hanks), seorang pengacara homoseksual sukses yang mengidap AIDS dan Miller (Denzel Washington), seorang pengacara yang biasanya mengiklankan dirinya melalui media televisi dan juga homofobik merupakan hal krusial tersebut. Berawal ketika Miller mengetahui Beckett memiliki AIDS perlahan-lahan dapat merasakan dan melihat dunia di mata Beckett. Di sini, Philadelphia memperlihatkan bagaimana sudut pandang penderita AIDS berjuang menghadapi penyakitnya dan diskriminasi terhadap dunia luar dengan screenplay yang orisinil.
8. HAPPINESS (1998)

Happiness
Sutradara: Todd Solondz
Pemain: Jane Adams, Philip Seymour Hoffman, Dylan Barker
Durasi: 134 menit
Happiness dapat dikategorikan sebagai karya ansambel. Di sini terdapat sekitar lima cerita yang berbeda, yang masing-masing akan berhubungan dari waktu ke waktu berputar-putar di antara ketiga tokoh utama, saudari Jordan. Saya mengibaratkan Happiness sebagai lompatan kuantum ke dalam kedewasaan. Banyak kejadian yang “salah” atau aneh di sini, di mana si sutradara menyampaikan berbagai perilaku yang dilakukan oleh setiap karakter mencari kebahagiaan di dalam film ini adalah bukan hal abnormal, melainkan hal-hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat saat ini.
7. DANCER IN THE DARK (2000)
Dancer in the Dark
Sutradara: Lars Von Triers
Pemain: Björk, David Morse
Durasi: 140 menit
Musik dan tragedi sering dikombinasikan di dalam sebuah film musikal, tetapi karena gaya realistis dari sutradara Lars Von Triers yang memberikan efek kesedihan luar biasa sekaligus menggetarkanlah yang menjadikan Dancer in the Dark agak berbeda dari film musikal pada umumnya. Selma (Björk) memiliki penyakit degeneratif yang nantinya akan mengakibatkan anak laki-lakinya buta permanen dan keadaan menyedihkan satu per satu mulai mengelilingi Selma. Keyakinan dan keberanian Selma diperlihatkan sekaligus diperdengarkan dengan musik di dalam drama musikal ini, bagaimana ia menggunakan musik untuk lepas dari realita yang sangat menyakitkan. Film ini benar-benar membawa saya merasakan pengalaman yang ajaib.
6. THE DEATH OF MR. LAZARESCU (2005)

The Death of Mr. Lazarescu
Sutradara: Cristi Puiu
Pemain: Ion Fiscuteanu, Luminiţa Gheorghiu
Durasi: 153 menit
Seseorang yang telah menunggu di unit gawat darurat dan tidak mendapatkan perawatan yang pantas pasti akan mengetahui dilema Mr. Lazarescu (Ion Fiscuteanu). Cerita perjalanan Mr. Lazarescu di dalam sistem medis Romania ditampilkan sangat kuat dan emosional. Sutradara Cristi Puiu menggambarkan perilaku dari para dokter dengan membubuhkan black comedy di dalamnya, dan Puiu sendiri menyajikannya secara cerdas bagaimana memposisikan dokter-dokter tersebut menjadi peran antagonis. Selain itu, gaya dokumenter dari sinematografer Oleg Mutu yang menggunakan pencahayaan minim dan pengabaian soundtrack pada film ini meningkatan intensitas situasi yang sangat buruk pada saat itu. Saya tidak pernah sedikitpun tersenyum ketika menonton film ini.
5. UNITED 93 (2006)

United 93
Sutradara: Paul Greengrass
Pemain: Christian Clemenson, David Alan Basche
Durasi: 111 menit
Sutradara Paul Greengrass mengerjakan sesuatu yang tampaknya sulit dilakukan. Menceritakan, dari menit ke menit, cerita para penumpang pesawat United Airlines Flight 93 pada 11 September 2001 dari pagi hingga kejadian naas tersebut berakhir. Ia tidak hanya menceritakan tindakan heroik dari para mantan atlet (Todd Beamer (David Alan Basche), Mark Bingham (Cheyenne Jackson), Tom Burnett (Christian Clemenson) dan Jeremy Glick (Peter Hermann)), tetapi ia benar-benar menyorot seluruh kejadian pada tanggal tersebut. Ia juga tidak memperlihatkan para teroris sebagai pemeran antagonis dalam film ini, melainkan menggambarkan mereka sebagai orang biasa yang terjerat pada sudut pandang tertentu.
4. 4 MONTHS, 3 WEEKS & 2 DAYS (2007)

4 Months, 3 Weeks & 2 Days
Sutradara: Cristian Mungiu
Pemain: Anamaria Marinca, Laura Vasiliu, Luminiţa Gheorghiu
Durasi: 113 menit
Tampaknya Romania berbakat dalam memproduksi film-film seperti ini. Kali ini, akting dari Anamaria Marinca (Otilia) dan Laura Vasiliu (Gabita) dalam 4 Months, 3 Weeks & 2 Days yang disutradarai oleh Cristian Mungiu menarik perhatian saya. Menceritakan tentang pertemanan dua remaja yang hidup pada pemerintahan Ceauşescu yang pada saat itu tengah mengilegalkan aksi aborsi. Ironisnya salah satu dari mereka sedang hamil dan ingin melakukan aborsi. Film ini tampak naturalistik. Dari segi sinematografi, pekerjaan yang dilakukan lagi-lagi oleh Oleg Mutu, menampilkan single-take yang sangat lama pada beberapa adegan tanpa membuatnya menjadi membosankan. Penempatan cerita yang dilakukan oleh Mungiu sangat apik, dan akting yang diperankan oleh kedua aktris tersebut sungguh baik sehingga mereka tampak menyatu dalam peran yang mereka mainkan.
3. AN INCONVENIENT TRUTH (2006)

An Inconvenient Truth
Sutradara: Davis Guggenheim
Pemain: Al Gore
Durasi: 94 menit
An Inconvenient Truth adalah representasi Al Gore pada sebuah film dokumenter tentang pemanasan global. Film ini menuangkan argumen persuasif dari Al Gore yang tidak dapat lagi kita berikan untuk menggambarkan situasi global sebagai persoalan politik, dan tampaknya, merupakan tantangan moral terbesar terhadap peradaban global manusia. Bagi saya, sulit mendeskripsikan film dokumenter ini, karena lebih menekankan kepada isu-isu moral dibanding isu-isu politik, dan pada dasarnya itu kembali kepada bagaimana kita memandang isu-isu tersebut. Saya hanya perlu menonton An Inconvenient Truth sekali untuk mendapatkan pesan yang disampaikan dan ilmu pengetahuan yang logis di dalamnya.
2. REQUIEM FOR A DREAM (2000)

Requiem for a Dream
Sutradara: Darren Aronofsky
Pemain: Ellen Burstyn, Jared Leto, Jennifer Connelly, Marlon Wayans
Durasi: 102 menit
Pada awalnya, semua peran yang terdapat di Requiem for a Dream memiliki mimpi masing-masing dan melakukan segala sesuatu untuk meraihnya. Tetapi realita tampak berkata sebaliknya, kecanduan secara perlahan-lahan mengubah mimpi tersebut menjadi kebutuhan animalistik. Narkoba menjadi kebutuhan primer yang menyakitkan sekaligus menyenangkan, itulah yang digambarkan oleh sutradara Darren Aronofsky. Berbeda dengan film-film tipikal yang melibatkan narkoba di dalamnya, klimaks yang brutal benar-benar membekas di dalam benak pikiran saya atas bagaimana narkoba mempengaruhi kehidupan dan menghancurkan segalanya.
1. SCHINDLER’S LIST (1993)

Schindler's List
Sutradara: Steven Spielberg
Pemain: Liam Neeson, Ben Kingsley, Ralph Fiennes
Durasi: 195 menit
Film ini bercerita tentang masa holocaust di Jerman, di mana kaum Yahudi mengalami penyiksaan oleh rezim Nazi. Emosi saya benar-benar lelah sehabis menonton film ini. Suatu hal yang mustahil untuk menampilkan akhir yang bahagia pada cerita yang sangat kejam ini. Film yang dapat dikatakan masterpiece ini benar-benar sangat baik dalam segala aspek: karakterisasi yang kontras antara Schindler (Liam Neeson) dan Goeth (Ralph Fiennes), keindahan sinematografi hitam putih film noir, cinéma vérité* yang realistis, sampai permainan biola Itzhak Perlman untuk bagian scoring. Kekerasan dan kebrutalan dalam film ini dikomposisikan dengan baik sehingga saya seperti berada di dalam emotional roller-coaster.
cinéma vérité: teknik dokumenter pembuatan film yang menggunakan situasi informal dan alami untuk memprovokasi subyek, misalnya menayangkan gambar kandidat yang sedang bercengkrama dengan rakyat kecil
Rencana
SAYA memiliki rencana jangka pendek dan beberapa alternatif rencana jangka panjang.
JANGKA pendek:
- Ingin belajar minimal 2 jam per hari.
- Ingin mencatat hal-hal yang penting ketika sedang kuliah dan mengabaikan mencatat semua slide karena walaupun rapih, hal tersebut tidak penting dan menyita waktu.
- Ingin beribadah secara rutin setiap harinya.
- Ingin mulai menggambar secara rutin untuk portfolio setiap hari libur.
- Ingin menulis blog secara rutin setiap hari Sabtu/Minggu.
- Ingin tidak menunda-nunda pekerjaan, apapun itu pekerjaannya.
- Ingin berusaha untuk menyukai jurusan yang sedang saya jalani.
- Ingin merapikan kamar kosan secara rutin setiap hari Sabtu.
- Ingin menyuci sepatu secara rutin setiap malam hari Jumat.
- Ingin menyediakan waktu luang minimal 15 menit dan maksimal 2 jam setiap hari tergantung kondisi, sibuk atau tidak.
- Ingin menyisihkan Rp10.000,00 per hari sambil berusaha berhemat.
- Ingin berusaha untuk tidak mengeluh apabila terjadi suatu hal yang buruk.
- Ingin tertawa terhadap diri sendiri dan mengambil kesimpulan secara bijak setiap melakukan kesalahan.
- Ingin MP3 player Samsung YP-K3 karena stylish.
- Ingin cellphone LG KF510 karena stylish.
JANGKA panjang:
- Ingin lulus tepat waktu (Juli 2011) dengan IPK minimum 3,25.
- Ingin mengikuti The Amazing Race.
- Ingin bekerja di Unilever atau Coca-Cola atau Nestlé.
- Ingin membangun portfolio agar bisa kuliah di Royal College of Art, United Kingdom.
- Ingin mengambil MBA di INSEAD, France.
- Ingin menjadi konsultan di McKinsey & Company.
- Ingin keliling Eropa terutama negara Perancis.
- Ingin menetap di salah satu kota di Inggris atau Perancis.
- Ingin berjalan-jalan di Jepang ketika bersalju.
- Ingin mempunyai rumah yang modern minimalis.
- Ingin mempunyai hewan peliharaan landak (hedgehog bukan porcupine).
- Ingin mempunyai hewan peliharaan anjing.
- Ingin menghadiri konser live Sufjan Stevens, Feist, Broken Social Scene, The New Pornographers, Andrew Bird, dan band/musisi-musisi yang saya sukai.
- Ingin gadget yang saya mimpikan dengan uang hasil kerja keras sendiri.
- Ingin bertemu teman-teman saya 7 tahun mendatang.
- Ingin mengajak teman-teman dekat saya keliling Perancis dan/atau Inggris dengan uang hasil kerja keras saya ketika saya sudah menetap di sana.
- Ingin terus bermimpi sambil berjuang sampai mimpi tersebut menjadi kenyataan.
MASIH banyak hal yang ingin saya tulis di rencana jangka panjang. Saya suka sekali memikirkannya. Saya menganggap hal tersebut menyenangkan. Saya yakin masih banyak hal-hal yang saya lupa tulis di rencana jangka panjang. Menyita waktu memang, tetapi menyenangkan.
SAYA baru sadar menulis blog seperti ini ternyata menyenangkan. Dan saya baru menghabiskan waktu bersih yang apabila ditotal tiga jam setelah saya menulis tiga post terakhir.
Teman
SAYA memiliki teman dekat. Menurut saya, dia memiliki kepribadian yang cuek. Cuek bukanlah hal yang negatif, dengan kepribadian seperti itulah, saya yang bersifat terlalu ambisius kadang mulai bisa memasrahkan hasil apa adanya. Saya salut dengan sifat dia yang sangat go with the flow. Saya sangat menginginkan sifat seperti itu. Kami berdua introvert dan terkadang karena sifat tersebut, kami memiliki perselisihan. Tetapi masalah tersebut pasti selalu kami tangani bersama sehingga tidak berangsur-angsur. Apa yang dia mau terkadang sulit ditebak, ini mungkin dikarenakan sifatnya yang moody. Ketika dirinya sedang rajin, dia dapat menyampaikan apa yang dia mau. Ketika dirinya sedang malas, dia sulit mengkomunikasikan sesuatu apa yang dia mau. Saya sendiri sering menebak-nebak apa yang dia mau. Dia menyukai sepak bola.
SAYA memiliki teman dekat. Menurut saya, dia memiliki kepribadian yang cerdas. Cerdas dalam artian dia seperti book smart dan street smart digabung menjadi satu kepribadian yang hebat. Saya mengagumi orang ini baik sebagai teman maupun orang biasa. Saya pernah berpikir apabila dia mengikuti acara The Apprentice, pasti dia yang keluar sebagai juara. Dia memiliki sifat yang menyenangkan sehingga dia disukai oleh banyak orang. Dia selalu memiliki alasan yang rasional terhadap pilihannya. Dia memiliki kesenangan terhadap mobil. Tetapi tampaknya dia tidak suka sepak bola.
SAYA memiliki teman dekat. Menurut saya, dia memiliki kepribadian yang serius. Serius di sini saya artikan sebagai selalu memikirkan hal-hal secara detil secara tidak sadar. Saya memiliki sifat yang mirip dengannya, tetapi apabila saya ibaratkan sesuatu, kami berdua bagai minyak dan air, sama-sama cairan tetapi densitasnya berbeda. Dan saya merasa memang kami berdua terkadang memiliki pandangan berbeda terhadap suatu hal. Tetapi kami berdua tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, karena apabila dibahas, saya pikir tidak pernah akan ada habisnya karena ego kami yang sama tingginya. Saya merasa dia akan berpikiran hal yang sama. Dia menyukai sepak bola.
SAYA memiliki teman dekat. Menurut saya, dia memiliki kepribadian yang tegas. Tegas sekali dan menurut saya dia sangatlah independen. Dia tidak menyukai orang-orang yang tidak dapat mempertahankan argumennya. Dia termasuk orang yang peka terhadap keadaan sekitar. Apabila dia sedang berada di dalam That ’70s Show, dia adalah Donna Pinciotti. Yang saya maksud di sini hanyalah kepribadiannya. Apabila pembaca tidak tahu kepribadian Donna seperti apa, silakan cek sendiri di Wikipedia. Saya tidak tahu apakah dia suka sepak bola atau tidak.
SAYA memiliki definisi sendiri terhadap “teman dekat”. Saya juga memiliki teman dekat yang menurut saya: dia kreatif, dia ramai, dia hebat, dia malas, dia riang, dan masih banyak lagi. Saya pribadi yang menganggap mereka adalah teman dekat saya, terserah apa anggapan mereka terhadap saya. Saya tidak akan memberitahukan kepada mereka terhadap post ini, karena saya yakin cepat atau lambat, mereka akan tahu dengan sendirinya.
DAN saya sendiri? Saya tidak suka sepak bola.
Saya
SAYA bernama Herdimas Anggara. Saya dipanggil Dimas. Saya lahir tanggal 26 Juni, tahun 1990. Saya sedang menulis ini ketika saya sedang menjalani kuliah tingkat dua di Teknik Kimia ITB.
SAYA sangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan seni dan desain. Saya sejak kecil sangat senang menggambar. Saya memiliki keahlian dalam menggambar portrait dan still life. Saya bisa menghabiskan waktu lebih dari 12 jam non-stop ketika menggambar portrait karena saya sangat suka dengan hal-hal detil ekspresi wajah manusia. Saya jarang memperlihatkan portfolio saya kepada orang lain karena lembar A3 terlampau besar untuk dibawa di tas saya. Saya takut ketika dibawa menjadi kotor dan kertasnya robek. Saya juga senang dengan jenis musik indie. Saya senang sekali apabila Sufjan Stevens atau Leslie Feist datang ke Jakarta atau Bandung untuk konser, pasti saya akan datang berapapun harga tiketnya. Saya suka dengan komedi sarkastis dan saya suka sekali melontarkan komedi-komedi sarkastis kepada teman-teman saya. Saya tampaknya memiliki kemampuan dalam membuat orang merasa bersalah walaupun saya tidak tahu kapan saya melakukannya.
SAYA suka dengan kerapihan walaupun kamar kosan saya jarang terlihat rapih. Saya terkadang berpikir apa yang saya akan bicarakan dengan Bahasa Inggris. Saya ingin sekali menulis blog ini dengan Bahasa Inggris, namun sayang dengan kemampuan Bahasa Inggris yang biasa-biasa saja, saya takut semua menjadi tidak terstruktur dan terkesan tidak rapih. Saya memiliki pola pikir yang menurut saya tidak biasa dengan kebanyakan teman saya, ini mungkin dikarenakan pengaruh selisih umur saya dengan kakak-kakak saya yang cukup besar.
SAYA memiliki sifat perfeksionis dan ambisius. Saya padahal tidak suka dengan kedua sifat tersebut, karena takut mengira orang-orang akan mencap saya arogan. Saya juga memiliki sifat sangat introvert, walaupun yang tahu akan hal tersebut mungkin hanyalah teman-teman baik saya. Saya orang yang sangat peka terhadap keadaan sekitar.
SAYA memiliki beberapa alternatif rencana jangka panjang di benak pikiran saya. Saya memiliki cita-cita untuk bekerja di Unilever dan/atau McKinsey & Company. Saya sangat ingin belajar di Royal College of Art, United Kingdom. Saya juga sangat ingin belajar di INSEAD, France. Saya baru saja berpikir orang-orang pasti akan mengira INSEAD adalah sekolah seni karena saya menulis hal tersebut setelah Royal College of Art atau karena saya menulis INSEAD berada di Perancis padahal bukan.
SAYA akhir-akhir ini mencoba untuk menikmati jurusan yang sedang saya geluti (Teknik Kimia) karena sebelumnya saya terus-menerus mengeluh mengapa saya berada di sini dan bukan sekolah desain. Saya memiliki impian untuk mengikuti The Amazing Race setelah saya lulus nanti, setelah saya tereliminasi atau bahkan memenangkannya, barulah saya mencari kerja.
SAYA tidak suka dengan hal-hal yang berbau mainstream karena menurut saya hal tersebut tidaklah unik. Saya benar-benar tidak suka dengan orang yang sekadar ikut-ikutan agar dirinya teranggap keren padahal sebenarnya tidak dan sering sekali saya melontarkan komedi-komedi sarkastis kepada mereka karena saya senang melakukannya dan hal itu membuat mereka merasa bodoh.
SAYA merasa masih memiliki banyak hal yang bisa ditulis saat ini tentang saya tetapi saya takut waktu saya akan terbuang. Saya mempunyai gaya tulisan seperti ini dan saya senang dengan gaya seperti ini.
DAN ini adalah kalimat terakhir dari post ini sekaligus kalimat pertama yang tidak diawali dengan kata “saya”.